Raflesia Arnoldi

Curup merupakan ibukota dari Kabupaten Rejang Lebong. Kabupaten ini terletak di Provinsi Bengkulu. Curup berbatasan dengan Kepahiang, Lebong, dan Bengkulu Utara. Ketiga kabupaten tersebut juga termasuk kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu. Curup adalah kota terbesar kedua di Provinsi Bengkulu (setelah kota Bengkulu), ...

Mesjid Besar Anggut

Curup merupakan ibukota dari Kabupaten Rejang Lebong. Kabupaten ini terletak di Provinsi Bengkulu. Curup berbatasan dengan Kepahiang, Lebong, dan Bengkulu Utara. Ketiga kabupaten tersebut juga termasuk kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu. Curup adalah kota terbesar kedua di Provinsi Bengkulu (setelah kota Bengkulu)...

Pantai Panjang

Curup merupakan ibukota dari Kabupaten Rejang Lebong. Kabupaten ini terletak di Provinsi Bengkulu. Curup berbatasan dengan Kepahiang, Lebong, dan Bengkulu Utara. Ketiga kabupaten tersebut juga termasuk kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu. Curup adalah kota terbesar kedua di Provinsi Bengkulu (setelah kota Bengkulu), ...

Tugu Kampung China

Curup merupakan ibukota dari Kabupaten Rejang Lebong. Kabupaten ini terletak di Provinsi Bengkulu. Curup berbatasan dengan Kepahiang, Lebong, dan Bengkulu Utara. Ketiga kabupaten tersebut juga termasuk kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu. Curup adalah kota terbesar kedua di Provinsi Bengkulu (setelah kota Bengkulu), ...

Bukit Kaba, Curup

Curup merupakan ibukota dari Kabupaten Rejang Lebong. Kabupaten ini terletak di Provinsi Bengkulu. Curup berbatasan dengan Kepahiang, Lebong, dan Bengkulu Utara. Ketiga kabupaten tersebut juga termasuk kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Bengkulu. Curup adalah kota terbesar kedua di Provinsi Bengkulu (setelah kota Bengkulu)...

Posted by bumisari - - 3 comments


Sebuah koper besar ber-merk Polo Twins dibelikan untukku oleh teman-teman satu seksi di Jakarta V itu, sebagai kenang-kenangan. Sudah jelas bukan asli, mana ada koper ber-merk Polo Twins asli. Pastilah palsunya Polo, tapi biar ada Polo-nya ya dibuatlah Polo Twins, kan masih ada Polonya. Polo-Poloan. Sebuah koper yang sangat besar. Ukuran tingginya saja seperut.

Acara perpisahan segera dilaksanakan, tempatnya di rumah makan Handayani di Matraman. Sudah pakem acaranya, kata sambutan, pemberian kenang-kenangan, lalu ucapan selamat kemudian diakhiri dengan makan siang diiringi dengan lantunan lagu-lagu, iyah, pasti, pasti ada dangdutnya.

Lumayan, dapat beberapa helai baju, dan macam-macam yang lain juga. Yang paling berkesan adalah sebuah jam tangan merk Swatch Irony Chronograph dengan dial campuran silver dan hitam. Paling berkesan karena dari semua kenang-kenangan yang lain itulah yang paling mahal. Makanya sampai sekarang masih dipakai.

“Kapan berangkat boss?” Kepala Jakarta V bertanya. Sekarang manggil boss dia, kalo dulu sebut nama aja.

“Masih agak lama pak.”

“Lah kok bisa?”

“Disana belum kondusif pak, kepala yang lama belum mau pergi.”

“Hah!? Ya udah di sini aja dulu, kerjaan juga gak kurang-kurang kok. Lagian penggantimu juga belum tau kapan datangnya.”

“Siap pak.”

Pelantikan udah, SK juga udah di tangan. Tapi kendalanya adalah kepala yang lama belum mau beranjak dari kursi empuk singgasananya. Alasannya adalah waktu itu bulan Desember, akhir tahun anggaran, menunggu sampai tutup buku biar lebih afdol. Masuk akal juga. Kesannya begitu, soal alas an sebenarnya hanya Tuhan yang tau. Kok gitu? Iya, karena bisa jadi yang bersangkutanpun tak tau kenapa dia harus tetap bertahan di sana.

Singkat cerita, toleransi waktu untukku tetap bertahan di kotaraja, dan raja terdahulu tetap bertahan sudah habis, aku harus segera berangkat dan dia harus segera lengser.
Perintah tegas telah diterima dan koper bermerk Polo Twins alias Polo palsu tadi akan segera menunaikan janji bhaktinya, membawa seluruh keperluan hidup sang pemilik. Mulai dari yang luar-luar, seperti baju, celana, topi, sepatu, dasi (obat ganteng) dan yang dalam-dalam seperti singlet, celana dalam, dan celana pendek (yang ini kadang di dalam kadang di luar) serta tidak ketinggalan adalah jimat..! ini perlu untuk menjaga keselamatan, memudahkan rejeki dan mengelabui mata wanita biar si pemilik jimat kelihatan keren (ini obat ganteng edisi forte, obat keras).

Koper besar bermerk Polo Twins alias Polo Palsu ini siap. Begitupun nomor kunci rahasianya sudah diputar. Mudah-mudahan gak lupa, angka “0” empat biji tidak terlalu sulit untuk diingat.

Berangkat sore, sampai pastilah malam. “Pesawat akan membawa anda menuju Pontianak Kalimantan barat dengan waktu tempuh satu jam dan 15 menit dengan ketinggian jelajah 31 ribu kaki diatas permukaan laut…., “ begitulah kurang lebih yang disampaikan oleh pramugari. Setelah lewat isya dari kejauhan kotaraja Pontianak mulai kelihatan, gemerlapan lampu-lampu menggambarkan kalau sepertinya kotaraja ini indah, apalagi waktu pesawat semakin menurunkan ketinggian jelajahnya, cahaya lampu kelihatan memantul diatas permukaan sungai, semakin indah saja. Terlihat pula beberapa gedung yang besar dan satu yang berwarna-warni mencolok. “Itu mall pak.” Kata orang di sebelahku menjelaskan tanpa diminta, kelihatan dia sangat bangga mengatakannya.

“Ohh” jawabku, aku bersyukur dan lega karena ada mall ini. Salah satu kebutuhan pokok manusia diera gadget ini adalah mall, setingkat dengan makanan, perumahan dan pulsa, setingkat juga dengan blackberry..! sudah sangat berbeda dengan kebutuhan manusia pra android..!

Pesawat mendarat dengan selamat, tetapi tidak halus, malah cenderung keras. Untung saja gak sampai mantul. Kemudian berdecit-decit mengerem, sampai badan pesawat bergetar, sepertinya sang pilot sampai berdiri menginjak rem pesawatnya. Semua orang diam dalam ketegangan. Untung saja gak lama suara berdecit dan getaran pesawat hilang dan bisa berjalan normal menuju tempat parkir.

Walau sudah bisa keluar dari terminal kedatangan bandara tapi masih harus menunggu karena sang relawan penjemput belum datang karena dari rumahnya mampir dulu, ya, ke mall tadi. Dia adalah teman lamaku dari Bengkulu yang sudah lebih dulu menetap di Pontianak.

Tak lama yang bersangkutan muncul. “Oops…!” rupanya udah jadi Pendekar dia, pendek dan kekar, Pendekar Samurai, pendek dan kekar, sakit sedikit airmata berurai. Atau Pendekar Rajawali, pendek dan kekar fans berat grup band Raja dan Wali.

Tak lama aku telah berada dalam mobilnya, berikut koper merk Polo Twins yang tengah menunaikan janji bhaktinya itu, tapi dia dibelakang. Kendaraan penjemput ini adalah Daihatsu Xenia Xi NoPol B 7892 WJ. Ingat, platnya B, nomor Jakarta..! sebuah kesombongan terselubung, pemiliknya tetap ingin identitas ke-Jakarta-annya tetap terjaga.

Para punggawa kerajaan yang datang dari Singkawang sendiri malah menunggu di rumah makan Padang Sari Bundo di jalan A. Yani. Kalau menunggu di rumah makan, pastilah sambil makan-makan, lazimnya begitu. Sementara sang raja yang ditunggu sendiri belum bersentuhan dengan makanan sedikitpun, masih kelaparan. Jadi kalau punggawa sudah makan sementara rajanya belum, itu berarti durhaka…! Untung saja mereka makan makanan ringan, jadi durhakanya masih ringan. Coba kalausudah makan besar, yang berat-berat.

Pertemuan dengan para pungawa ini berlangsung tertib dan penuh takzim, ucapan selamat datang sambil berjabat tangan terasa sangat formal dan kaku. Segeralah disusun tentang prosesi penyambutan dan penobatan sang raja baru, Yuyul Suruyul hadir waktu itu, dan tetap cengengesan.

“Suasananya masih belum kondusif pak, kami masih mengatur rencana untuk pisah sambutnya agar bisa berjalan lancar.”

“Ohya? Rencana kalian gimana?”

“Nah itu yang kami masih bingung pak.”

Halah…!

Malam itu menginap dulu disebuah hotel, bernama Orchardz, dan sebelum berpamitan, sang pendekar penjemputku tadi berpesan agar nanti kalau bertemu dengan raja yang akan segera lengser itu sebaiknya tidak mengucapkan apa-apa.

Hhhhh ada apalagi ini? Ah sudahlah yang penting malam ini bisa tidur dengan tenang dulu.

Ternyata rencana belum bisa dilaksanakan, Pak Kakanwil, sang maharaja, baru datang senin sore, dan beliau memutuskan agar aku berangkat bersama-sama dengannya hari selasa pagi, jangan berangkat sendiri-sendiri. Makin bertanya-tanya lagi, ada apa sih ini?

Untungnya semua itu diatur sambil makan malam bareng di hari Senin malam selasa, di rumah makan Sari Bento. Menjelang makan malam itu digelar dan sambil menunggu kehadiran sang maharaja bapak KaKanwil, datanglah seseorang layaknya Komandan Kodim atau Kapolres. Berbadan tegap, berkulit gelap, sedikit bicara tidak banyak cakap. Sepatu mengkilap, selalu dalam keadaan siap, sigap dan cepat tanggap. Hap….! Lalu ditangkap. Ternyata dia adalah Kabag Umum Kanwil, orang kedua setelah KaKanwil setelah maharaja. Dia adalah mahapatih..! pantesan aja wajahnya mirip-mirip Gadjahmada, tapi yang satu ini sepertinya tidak pernah mengucapkan sumpah palapa. (nanti bersambung lagi, capek, pegel nulisnya…!)
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 1 comments


Bakat memang tidak ada, kemampuanpun minim. Semangat hilang idepun telah lama lenyap. Yang tinggal adalah malas dalam jumlah banyak dan sibuk yang cukup. Semuanya telah sangat pas untuk jadi alasan untuk berhenti menulis.

Malu? Jangan tanya. Tidak ada kata malu, yang ada malah sedikit perasaan bangga, manakala ditanya orang kok berhenti menulis sekarang? Maka jawaban yang meluncur keluar adalah “Tidak sempat lagi, pekerjaanku sejak memimpin kantor yang lebih besar sekarang menjadi sangat menumpuk dan menyita waktu. Pulang harus setelah malam dan berangkat harus lebih pagi. Jangankan buat nulis, untuk nafaspun hampir-hampir gak sempat..!” Alangkah lebaynya jawabannya ini, hiperbola, bola yang besar.

Barusan aku membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan tentang bagaimana dia membangun “The Dream Team” di BUMN. Bukan isi tulisan itu yang ingin saya bahas, tetapi bagaimana beliau dengan kesibukannya yang menggunung, waktunya yang sangat-sangat berharga, dan beban pemikiran yang maha berat yang beliau tanggung tapi masih sempat menulis, rajin, dan kontinyu, istilah agamanya adalah istiqomah. Disaat sibuk menulis, disaat senggang tetap menulis.

Awalnya dulu menulis adalah sarana mencari uang bagiku. Masih ingat ketika itu masih menjadi mahasiswa, dengan keuangannya yang sangat minim. Mengirim tulisan untuk ikut lomba karya tulis, lalu mendapatkan sedikit uang. Salah satunya adalah ketika dapat uang dari BTN berikut dengan buku Tabanas. Uangnya diambil sementara bukunya dibuang. Boro-boro nabung, buat makan aja susah. Piala-pialanya masih ada sampai sekarang , dipajang di rumah di kampung berjejer dengan foto wisuda yang terasa lucu kalo dilihat sekarang.

Awal-awal kerja masih tetap nulis, dikirim ke beberapa harian lalu dapat duit honor yang waktu itu terasa sangat lumayan, karena udah disebut dengan ratus ribu. Lalu menulis cerita juga ke tabloid, dapat duit juga alakadarnya, lalu menulis novel. Yang ini udah dapat itungan juta.
Sekarang? Tidak sama sekali. Celakanya tidak nulis lagi ini dilakukan dengan rasa bangga, yah karena itu tadi, karena jadi kepala kantor besar, kantor teladan di ibukota propinsi. Cuih…! Benar-benar jawaban yang memalukan, tidak tahu diri dan, angkuh…!

Jangan ditiru sodara-sodara. Menulis adalah sarana menyampaikan apa yang ada dalam fikiran kita kepada orang-orang. Sekaligus membuat orang tahu tentang siapa kita dan apa yang ada dalam fikiran kita. Menulis tidak sama dengan membaca, tetapi membutuhkan keterampilan lebih. Ibarat membaca adalah makan, maka menulis adalah memasak. Semua orang bias makan, tetapi tidak semua orang bias memasak, meracik makanan, dan menyajikannya dengan layak.

Ini nasehat buatku sendiri, “Menulislah, karena banyak kebaikan bisa disampaikan dan didapat dari menulis.”

Nasehat selanjutnya, “Laksanakanlah nasehat pertama itu..!”
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 3 comments


Dua hari berturut-turut (27-28/12) hujan sepertinya tidak berniat untuk beranjak dari kota kecil Singkawang ini. Mendung masih saja pekat, dan titik-titik air yang berat sepertinya masih siap jatuh. Semuanya basah. Jalanan, halaman, pakaian, hingga perasaan hatipun ikut-ikutan basah, dingin! Tidak ada yang salah dengan hujan ini, sudah kodratnya begitu. Karena pengaruh perputaran bumi dan matahari maka di bulan-bulan akhir tahun hingga awal tahun berikutnya akan banyak hujan. Namun bila hujan yang terus menerus itu dialami orang yang lagi susah, maka perasaan susahnya akan bertambah-tambah. Bayangkan saja, rumah bocor, halaman hingga teras terendam, listrik mati, gas habis, mau beli cemilan ke warung gak punya uang, mau ngutang takut dan malu karena sudah kebanyakan, mau pergi keluar bensin motor abis, badan rasanya dingin sama masuk angin, mana di rumah hanya sendiri, mau nelpon seseorang pulsa gak ada hapenya lowbatt lagi, hhhh….. Waktu itu hujan adalah tidak ubahnya tali pengikat dari karung besar kesedihan. Lengkap, kesedihan yang sempurna..!

Seorang teman di kantor ini sore kemarin menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Memperhatikan titik-titik hujan yang turun hingga menggenangi halaman. Kalau dibandingkan dengan kesedihan diatas, dia beberapa tingkat diatasnya, kenapa? Karena selain ketidak beruntungan seperti diatas, dia juga baru saja putus cinta..! benar-benar kesedihan dengan paket special….!

Untung saja, racun tikus dan tali tambang sudah sejak beberapa hari ini kami jauhkan darinya, kalau tidak mungkin saja dalam pikirannya jalan pintas mengakhiri hidup terlihat cukup menarik.


“Kesedihan dan kebahagian itu adanya di hati Ink.” (nama makhluk yang sedang bersedih hati ini adalah Ju-ing). “Kalau kita bisa mencari makna dari setiap kejadian maka kita akan nrimo dan bisa merasakan kebahagiaan dari sisi baiknya.” Mulailah kalimat-kalimat motifasi meluncur deras, sudah seperti layaknya pakar konseling tingkat dunia.

“Iya pak, tapi kalo hujannya gak berenti-berenti kayak sekarang ini, semuanya jadi runyam. Sampai urusan celana kolorpun jadi masalah.”


“Lah kenapa?”


“Habislah pak, gak ada yang kering lagi..!”


“Loh beli yang baru…! Kalo gak bisa, untuk sementara tidak pakai celana kolor dulu juga gak apa-apa, tanpa celana kolor bukan menjadi penghalang untuk orang menjadi bahagia…!”


“Hhhh…., suasana menjadi tidak enak dengan ujan yang terus menerus seperti ini pak, mau pulang di rumah tidak ada siapa-siapa, di kantor juga udah sepi, lapar, dingin, apalah arti hidup ini ya pak?”


Waduh..! sampai sejauh itu? “Hanya ujan aja Ink, jauhlah urusannya dengan arti hidup.”

“Iya juga pak, cuman hujan, bagi yang sedang berbunga-bunga tentu hujan berhari-hari seperti ini akan membuat suasana makin romantis. Tapi bagi yang lagi galau seperti saya, hujan tidak ubahnya saos pelengkap di dalam mangkok kepiluan saya…

Wuiiihh…..! lebaynya….!
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 0 comments

image Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak…terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.


Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam,”Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana”. “Menjadi kepompong memang memalukan!” “Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau”, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya.
Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam.“Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. “Tolong…tolong,” teriak si semut.


“Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya…?” Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. “Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat… sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?” Yah, aku sadar…. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang…?” kata si semut pada kupu-kupu.


Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. “Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya…? Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.
Moral : Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina.

 

Sumber : Elexmedia
Image: fortunecity.com

[ Read More ]

Posted by bumisari - - 1 comments


mahasiswa-mahasiswaku, mestinya hari ini jadwal mengajarku jam 13.30 dan jam 19.00 nanti. tapi apalah daya dua hari ini aku terpaksa meninggalkan kota kecil yang indah ini untuk sebuah keperluan dinas (kerennya begitu tetapi dengan bahasa yang apa adanya adalah keperluan mencari nafkah, mengumpulkan serupiah demi serupiah). aku akan berada kembali di sini besok rabu dan bisa ke kampus hari kamis dan jumat, sekiranya di hari itu kalian ada waktu maka kuliah hari ini kita ganti di hari tersebut.

bagaimana dengan sabtu (3/12) pak? ohya, sabtu pagi aku harus segera ke Jakarta untuk selanjutnya hari senin melanjutkan perjalanan ke Padalarang Bandung. minggu (11/12) sore baru kembali dan baru seninnya bisa ke kampus, itu juga sekiranya kalian punya waktu dihari itu untuk mengganti kuliah kita selasa minggu depan.
jangan tanya keperluannya apa, kok sampai pergi begitu jauhnya. pasti kan kujawab dinas..! walapun sebenarnya kalian tau dinasku itu berarti mencari sesuap nasi...! aku telah menyampaikan pesan tentang berantakannya jadwal kuliah ini ke bagian sekretariat, dan seperti biasa, mereka tidak dapat berbuat apa-apa hahaha.


akhirnya, pantun melayu:

kain lap diatas kayu kena dempul,
ai lap yu pull..... :)
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 2 comments


Seorang datang ke kantorku beberapa hari yang lalu. Kalo dilihat dari raut wajah, warna kulit, dapat dipastikan dia adalah saudara kita sebangsa yang berasal dari daratan china sana, dia orang tionghoa.

Kedatangannya ke kantorku adalah karena dia masih punya hutang kepada Negara ini yang harus dia lunasi. Jumlahnya mungkin bagi orang kaya tidaklah seberapa, hanya sekitar 30 juta rupiah, tapi bagi orang dengan taraf ekonomi yang biasa-biasa saja bisa jadi jumlah itu lumayan besar. Sekiranya dia beritikad baik dan memohon keringanan, maka bisa saja dia membayar hanya sekitar 20 juta rupiah saja.

Persoalannya adalah hutang tersebut sudah sangat lama dan dia merasa sudah mengeluarkan uang lebih dari 30 juta. Lha, kok bisa. Setelah mendengarkan ceritanya ternyata dia tertipu. Ada orang lain yang sedikit mengerti dengan persoalan hukum utang piutang kepada Negara mengelabuinya. Kakek ini (karena memang udah tua) dijanjika mau dibantu. Sang penipu, yang berasal dari etnis yang sama, berkali-kali datang kepadanya meminta uang yang katanya untuk mengangsur hutang, untuk keperluan menyogok orang kantor agar asset jaminan tidak dilelang dan sebagainya dan sebagainya.

Sang kakek ini pernah ingin ke kantor menyelesaikan persoalannya sendiri, tetapi tetap saja dengan minta dianter oleh si penipu ini. Selanjutnya dia dibawa ke sebuah kantor yang cukup megah kemudian sang penipu memintanya untuk menunggu sebentar di luar kantor dan dia masuk ke dalam. Tak lama dia keluar lagi dan mengatakan kepala kantornya sedang pergi . Acara ketemu dengan kepala kantor itupun batal. Belakangan diketahui, dulu itu sang kakek ini bukan dibawa ke kantorku, tetapi dibawa ke kantor apa tidak jelas.

Pengalaman orang ditipu oleh si penipu ulung ini bukanlah yang pertama, dan sepertinya juga bukan yang terakhir. Sudah banyak dan masih akan ada lagi. Dari melihat rentetan korban yang sudah begitu banyak dan nominal rupiah kalo dijumlah-jumlahkan akan mencapai nilai yang wah (ada yang sampai kena tipu hingga 700 juta rupiah). Maka tentunya keahliannya patut diacungi jempol. Dan sepertinya profesi sebagai penipu ini sudah mendarah daging padanya. Kalo dari pagi sampai sore tidak ada orang yang bia ditipu mungkin malamnya yang bersangkutan tidak bisa tidur nyenyak. Celakanya, menipunya itu sebagian diantaranya dengan memfitnah orang lain. Contohnya aku dan kantorku ini.

Kembali dengan cerita si bapak tua tadi, dia adalah seorang petanai jeruk, dan salah sato komoditi yang ditanamnya adalah jeruk bali. Kemarin dia datang dengan membawa jeruk bali satu karung dan dua kardus besar. Dia bilang “Ngai tadak lela ho dia olang belapa kali ambil jeluk, bilangnya buat kasi ini kantol punya kepala, sama teman-teman sini. Tapi itu jeluk dimakan sendili tadak pelnah nyampe. Sekalang ngai bawa langsung buat bapak, bial bapak bisa makan, ngai punya jeluk manis punyao.”

Massya Allah, ternyata untuk hanya sekedar makan jeruk bali saja, dia memperolehnya juga dengan cara menipu dan memfitnah orang. Hhhhh.
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 0 comments


Suasana yang garing, terlalu serius, atau sedang setres tentulah membuat waktu menjadi terasa panjang. Kejenuhan dan rasa bosan tentu akan sedikit berkurang kalau ada seseorang yang bisa diajak bercanda atau dicandai.
Bercanda bukanlah monopoli milik manusia. Hewanpun tetap bercanda dengan sesamanya , tentunya dengan cara mereka sendiri. Kelompok nyamuk mungkin akan berkejar-kejaran seperti pesawat tempur, mungkin saja. Monyet sering terlihat saling mencari kutu. Ular saling melilit, ayam saling berkejaran dan kalau ketemu saling mamatuk, ayam kecil tentunya, kalo ayam gede berantem beneran itu. Bahkan binatang buas sekelas harimau dan singapun masih bercanda. Walapun ketika itu kelihatannya dan kedengarannya menakutkan.
Aku salah satu dari makhluk yang suka bercanda itu. Allah, tuhan yang maha pemurah itu, memberikan kelebihan padaku berupa kemampuan untuk melucu, membuat cerita yang mengundang tawa, atau sekedar membuat orang-orang tersenyum dengan kebodohan yang tak sengaja keluar.
Permasalahannya adalah aku tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membaca situasi. Kapan boleh bercanda kapan harusnya tidak. Lagi upacara bercanda, lagi rapat bercanda, bahkan lagi di pemakaman masih bercanda. Kalo yang dicandai anak kecil, atau orang penakut maka akan diam saja. Tapi kalau yang dicandai orang yang berani dan berotot tentu persoalan akan jadi lain. Nah kekurang mampuanku itu juga terhadap memilah-milah siapa yang bisa diajak bercanda dan siapa yang jangan. Sama orang yang lebih tua bercanda, sama yang lebih tinggi kedudukannya bercanda, sama suku tertentu bercanda yang menyinggung sukunya, sama orang yang baru putus bercanda tentang ke-jomblo-annya. Selalu begitu.
Tidak jarang karena hal-hal tersebut membuat sakit hati orang, atau membuat mereka ngamuk. Nah disinilah persoalannya, kadang aku masih menganggap candaanku masih wajar, masih normal-normal aja, tapi kadang mereka menganggapnya sudah melampaui batas, sudah keterlaluan. “Kok marah? Kan hanya becanda men….., please deh.” “Eh elu kalo becanda kira-kira dong! Ada waktunya ada tempatnya…!” Masih untung gak langsung bak buk! Kan berabe urusannya.
Pesannya adalah becanda itu boleh, bahkan mungkin disaat-saat tertentu dan sesuai kondisi bisa saja menjadi perlu. Tapi tidak setiap saat bisa dan tidak setiap orang suka bercanda. Nah, kalu sudah merenungi yang ini kadang aku menjadi bingung, sebenarnya bakatku bercanda atau membuat orang sakit hati? Maafin yah candaanku selama ini. Hhhhh……. 
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 1 comments


Kisi-kisi sejatinya adalah bilah-bilah yang dipasang pada lubang fentilasi, atau daun jendela atau pintu. Kisi-kisi adalah pembatas atau penyaring, fungsinya untuk menghalangi sesuatu yang tidak diharapkan untuk masuk (misalnya binatang atau pencuri) dan masih memberi jalan kepada sesuatu yang diinginkan untuk lewat (dalam hal ini biasanya udara).


Tapi kisi-kisi juga oleh sebagian orang dapat diartikan sebagai petunjuk. Petunjuk yang tidak secara tegas menyatakan sesuatu, kadang juga disebut klu (inggris: clue). Saat kita menggambarkan seseorang atau sesuatu kepada orang lain, (kadang untuk membuatnya penasaran) kita bisa saja hanya menyampaikan kisi-kisinya. Misalnya rambutnya keriting, hidungnya mancung, kulitnya agak gelap, tingginya sebahu saya dan seterusnya dan seterusnya. Si komunikan (dalam teori komunikasi penerima pesan disebut komunikan) akan mulai menebak-nebak siapa orang itu dengan mencocokkan dengan bank informasi yang ada dibenaknya, kemudian ia menyebut satu nama. Bisa benar bisa juga salah, tergantung seberapa mendekati kisi-kisi yang disampaikan atau seberapa banyak orang yang cocok dengan kisi-kisi tersebut di otaknya.


Menjelang diadakan ujian di sekolah atau kampus, tidak jarang para siswa, terutama lagi mahasiswa menanyakan kisi-kisi ini kepada guru atau dosennya. Baik yang secara terbuka atau terang-terangan. Atau hanya tersirat saja, tapi pada dasarnya sama, menanyakan nanti soal yang keluar adalah seperti apa, dari bab mana dari buku paket yang dipelajari. Guru atau dosen atau widyaiswara kadang juga diminta atau tidak diminta memberikan kisi-kisi ini. Niatnya baik agar para siswa dan mahasiswa dapat lebih fokus dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kita menyadari bahwa para makasiswa menghadapi ujian banyak mata kuliah yang tentu agak merepotkan kalau mereka harus belajar secara sapu jagad, semuanya dari sampai z.

Tapi ada juga yang anti memberikan kisi-kisi ini karena merasa berdosa karena menganggap perbuatan memberikan kisi-kisi adalah sama dengan membocorkan soal. Wallahualam silahkan memaknai sendiri. Pengalamanku dulu pada waktu mengikuti diklat, ada seorang widyaiswara tamu (bukan dari intern Kementerian Keuangan) memberikan kisi-kisi dengan cara yang lucu. Sebelum memberikan dia meminta salah satu peserta menutup pintu (wuih dramatis banget!) selanjutnya, “tolong disalin, dan jangan sampai diceritakan keluar ya, ini kisi-kisi yang akan saya sampaikan!” setelah melongok ke luar jendela kiri dan kanan dan dirasa aman mulailah dia menyampaikan soal-soal yang menurutnya nanti akan keluar ujian, satu, dua, tiga dan seterusnya hingga seratus lebih. “Nah kalian pelajarilah itu, itulah nanti yang akan keluar!” Pada waktu ujian, soalnya hanya lima…!

Nah mahasiswaku, besok soal mid Ekonomi Pembangunan yang akan keluar adalah Bab-1 sampai dengan Bab-4 buku Ekonomi Pembangunan karangan Abdul Hakim, jelas kan? Hahaha (kan kuliah kita memang baru sampai bab itu, hihihi). Selamat belajar.
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 0 comments

image Di sekitar perkampungan yang subur daerah Jawa barat bernama Pangalengan, dekat dengan air terjun tinggi nan jernih yang bernama Siliwangi, di dekatnya ada sebuah rumah besar di kerumuni oleh orang - orang yang kala itu sedang berbahagia, ada kebuah kemeriahan pesta pernikahan yang sedang berlangsung disana, kemeriahannya sungguh mewah sekali, teramat mewah sampai yang menghadiri pesta tersebut merasa terkagum – kagum dan terpesona, entah berapa ratus juga yang di habiskan untuk mengadakan perhelatan akbar tersebut, memang tidak tanggung tanggung, janda kaya itu membuat puteri tunggal kesayangannya itu tersenyum bahagia di hari ia melepaskan status kesendiriannya itu. Walaupun calon suaminya itu hanyalah seorang ustadz muda dari pesantren Ciwaluya yang terhalang satu kaki gunung tinggi nan lebar dari tempatnya yang bernama malabar, namun ia merestui hubungan baik dari dua insan yang sedang di mabuk asmara itu. Ia tak memperhitungkan kekayaan seperti halnya di film - film, baginya yang terpenting hanyalah keduanya saling mencinta dan calon menantunya itu dapat mencintai dan menjaga puterinya kelak.

Pemuda beserta keluarganya itu tentu saja amat sangat bahagia memenangkan hati dan sekaligus meminang sang puteri pujaan hatinya, harkat derajat martabat keluarganya terangkat, tak lagi dianggap remeh oleh orang - orang disekitarnya. Sebelum dia mengajukan lamaran dia sudah mengatakan satu permintaan langsung kepada calon mertuanya, bahwasannya ia ingin sekali tetap menjadi seorang ahli agama, terus belajar walaupun nantinya sudah berstatus menjadi suami, dan ia ingin sekali berdakwah, pernyataan tersebut sungguh disambut dengan baik oleh calon mertua dan tentu saja calon isterinya tersebut, dan calon merutuanya pun menjanjikan akan membantu dalam hl materi untuk perjuangannya tersebut...hanya saja persyaratannya, dia tidak boleh menolak acara pesta pernikahan yang meriah, dikarenakan puterinya itu puteri tunggal satu - satunya, ia ingin sekali berbagi kebahagiaannya dengan orang - orang disekitarnya, pestanya tersebut bisa di stilahkan dengan "welcome party", siapa pun boleh menghadirinya.

Di tengah kemeriahaan, wanita paruh baya ini pun berpamitan sebentar dari kerumunan ramai para tamunya, ia malah merasa pusing dengan kebisingan, menjauh dari keramaian ia tertegun sendiri dekat dengan kolam ikan beberapa ratus meter yang terletak dari rumahnya, namun tentu saja tidak mutlak sendirian...aa seorang pelayannya yang setia menemani dari kejauhan. Wanita itu menghela nafas dalam - dalam, dia bahagia dalam hatinya, namun ia pun menangis mengingat masa lalunya. Sudah tiga puluh tahun ia membesarkan puteri tunggalnya tersebut sendirian. Ia memejamkan mata lalu mencoba mengingat - ingat kenangan yang masih tersisa dalam kepalanya, tapi bukan mendiang suaminya yang ia pikirkan, namun sang kekasih dimasa mudanya, dikala ia menginjak umur antara sembilan belas sampai dua puluh lima tahun, dikala asamaranya sedang menggelora, meregup cinta yang begitu mendalam. Sayang, banyak halangan dan rintangan yang memisahkan, jauhnya usia diantara mereka, dan banyak hal lainnya yang sungguh hanya dapat membuat mereka pasrah untuk berpisah, wanita itu pun pergi memenuhi pinangan dari seorang lelaki pilihan keluarganya.

Sayang, saat ini Guratan senyumnya kian hari kian memudar, bersamaan dengan cintanya yang telah pergi. Kehampaan seakan menghantaui batinnya setiap hari, ia selalu berusaha secara diam - diam untuk mencari kekasihnya yang telah lama pergi tanpa sepengetahuan peterinya, setiap hari tak ada bosannya ia mencari, sampai ia menyewa seorang detektif untuk membantunya satu tahun ini. Kekasihnya itu asli dari seberang pulau, terakhir dikabarkan bahwasannya ia telah menetapi di luar negeri namun sudah pulang lagi ke Indonesia, namun entah dimana ia berada. Menunggu datangnya hari yang tak pasti, ditemani kesepian dan rindu yang semakin menggebu - gebu, ia menangis memuncakkan perasaan yang bergejolak dalam batinnya.

"dimakaha engkau kini berada
Jika saja kau tahu perasaanku, setiap harinya bergemuruh rindu
cukuplah hanya melihat wajahmu
aku pun rela mati dengan tenang..."

Berselang satu jam teleponnya berdering, keajaiban sungguh datang!
Detektif yang ia sewa tersebut akhirnya menemukan kekasih lamanya tersebut, matanya langsung terbelalak, berbinar - binar bagaikan kembali lagi ke masa lalu, ketika sedang dimabuk asmara, sungguh tak sabar lagi ingin bertemu. Ia buru - buru menemui kekasihnya tersebut yang sudah dibawa oleh detaktifnya tersebut di salah satu villa miliknya di kawasan lembang. Kepada puteri dan menantunya ia berpamitan dengan alasan ingin berjiarah ke kuburan mendiang suaminya di kuningan. Oh betapa bahagianya, bagaikan seorang musafir di padang pasir menemukan mata air, kehausan itu akan segera terobati. Sepanjang dia gelisah, tak henti - henti jantungnya berdegup kencang serasa ingin meledak melompat dari dadanya.

Nijar Hisam, 24 Oktober 2011.

To be continued, please Edit ^^


Peringatan: Jangan Asal Copy Paste!Para pembaca yang terhormat Mohon untuk tidak Copy paste tulisan - tulisan di website ini tanpa menyertakan Penulisnya (Nijar Hisam/ Langit Hening/ Bumisari Curup), karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya. Anda boleh mengcopy pastenya, namun jangan lupa sertakan URL sumbernya dari sini dan penulisnya juga! Terima kasih.
[ Read More ]

Posted by bumisari - - 4 comments


Idak selamonyo rejeki pacak didapek dikampung dewek, adokalonyo tempeknyo jau, tepaksolah kita berangkek. Idak pacak idak, namonyo la takdirnyo cak itu. Misalnyo keno perintah kalu tentara apo polisi cak itu. Keno eska, kalu pns, macam-macamlah penyabab kito idak pacak lagi belamo-lamo dikampung dewek belemak-lemak dekek tobo-tobo. Senasib dengan itu, ambo lagi dapek giliran merantau, jau, di Kalimantan barek siko, dikampung orang cino melayu dekek dayak. Namonyo singkawang, la parak dekek Malaysia. Lantaran apo? Nyari rejeki! Itulah. Namonyo dikampung orang ado idak lemaknyo, ado jugo lemaknyo, idak lemaknyo pastilah kerno jau dekek kawan-kawan, keluargo, orang tuo segalo macamlah. Lemaknyo kito jadi tau dekek kampung orang, budaya orang caro-caro orang lain yang samo sekali idak samo dengan kito. Kalu tiok tigo minggu naik pesawat dak taulah tu, apo temasuk yang lemak apo yang idak. Yang jelas idak lemak tuh kalu la keno sakit. Tamba-tamba lagi kalu sampai masuk ruma sakit, saro nian rasonyo, sampai-sampai tepikir, kalu sampai ambo mati dirantau ko alangka sedihnyo dak mak dekek bapak, samo nyusahkan orang banyaklah kalu harus bawah mayat kito balik dusun, mahal pulo ongkosnyo. Ai dahlah ngapo pulo mikir sampai kesano-sano. Macam idak ado gawe ajo. Singkek cerito, macam orang melayu kecek dak, dimano bumi dipijak disanola langik dijunjung, kalu pandai badan meniti bui selamek orang ke seberang. Maksudnyo pacak-pacaklah begaul, kenali adat istiadat tempek nyari rejeki tu, supayo selamek sampai ke balik lagi. Seiko ajo dulu yo acok-acokla main ke siko sapo tau ado-ado ajo cerito baru. Wassalam…..
[ Read More ]

Search This Blog

Loading...