
Acara perpisahan segera dilaksanakan, tempatnya di rumah makan Handayani di Matraman. Sudah pakem acaranya, kata sambutan, pemberian kenang-kenangan, lalu ucapan selamat kemudian diakhiri dengan makan siang diiringi dengan lantunan lagu-lagu, iyah, pasti, pasti ada dangdutnya.
Lumayan, dapat beberapa helai baju, dan macam-macam yang lain juga. Yang paling berkesan adalah sebuah jam tangan merk Swatch Irony Chronograph dengan dial campuran silver dan hitam. Paling berkesan karena dari semua kenang-kenangan yang lain itulah yang paling mahal. Makanya sampai sekarang masih dipakai.
“Kapan berangkat boss?” Kepala Jakarta V bertanya. Sekarang manggil boss dia, kalo dulu sebut nama aja.
“Masih agak lama pak.”
“Lah kok bisa?”
“Disana belum kondusif pak, kepala yang lama belum mau pergi.”
“Hah!? Ya udah di sini aja dulu, kerjaan juga gak kurang-kurang kok. Lagian penggantimu juga belum tau kapan datangnya.”
“Siap pak.”
Pelantikan udah, SK juga udah di tangan. Tapi kendalanya adalah kepala yang lama belum mau beranjak dari kursi empuk singgasananya. Alasannya adalah waktu itu bulan Desember, akhir tahun anggaran, menunggu sampai tutup buku biar lebih afdol. Masuk akal juga. Kesannya begitu, soal alas an sebenarnya hanya Tuhan yang tau. Kok gitu? Iya, karena bisa jadi yang bersangkutanpun tak tau kenapa dia harus tetap bertahan di sana.
Singkat cerita, toleransi waktu untukku tetap bertahan di kotaraja, dan raja terdahulu tetap bertahan sudah habis, aku harus segera berangkat dan dia harus segera lengser.
Perintah tegas telah diterima dan koper bermerk Polo Twins alias Polo palsu tadi akan segera menunaikan janji bhaktinya, membawa seluruh keperluan hidup sang pemilik. Mulai dari yang luar-luar, seperti baju, celana, topi, sepatu, dasi (obat ganteng) dan yang dalam-dalam seperti singlet, celana dalam, dan celana pendek (yang ini kadang di dalam kadang di luar) serta tidak ketinggalan adalah jimat..! ini perlu untuk menjaga keselamatan, memudahkan rejeki dan mengelabui mata wanita biar si pemilik jimat kelihatan keren (ini obat ganteng edisi forte, obat keras).
Koper besar bermerk Polo Twins alias Polo Palsu ini siap. Begitupun nomor kunci rahasianya sudah diputar. Mudah-mudahan gak lupa, angka “0” empat biji tidak terlalu sulit untuk diingat.
Berangkat sore, sampai pastilah malam. “Pesawat akan membawa anda menuju Pontianak Kalimantan barat dengan waktu tempuh satu jam dan 15 menit dengan ketinggian jelajah 31 ribu kaki diatas permukaan laut…., “ begitulah kurang lebih yang disampaikan oleh pramugari. Setelah lewat isya dari kejauhan kotaraja Pontianak mulai kelihatan, gemerlapan lampu-lampu menggambarkan kalau sepertinya kotaraja ini indah, apalagi waktu pesawat semakin menurunkan ketinggian jelajahnya, cahaya lampu kelihatan memantul diatas permukaan sungai, semakin indah saja. Terlihat pula beberapa gedung yang besar dan satu yang berwarna-warni mencolok. “Itu mall pak.” Kata orang di sebelahku menjelaskan tanpa diminta, kelihatan dia sangat bangga mengatakannya.
“Ohh” jawabku, aku bersyukur dan lega karena ada mall ini. Salah satu kebutuhan pokok manusia diera gadget ini adalah mall, setingkat dengan makanan, perumahan dan pulsa, setingkat juga dengan blackberry..! sudah sangat berbeda dengan kebutuhan manusia pra android..!
Pesawat mendarat dengan selamat, tetapi tidak halus, malah cenderung keras. Untung saja gak sampai mantul. Kemudian berdecit-decit mengerem, sampai badan pesawat bergetar, sepertinya sang pilot sampai berdiri menginjak rem pesawatnya. Semua orang diam dalam ketegangan. Untung saja gak lama suara berdecit dan getaran pesawat hilang dan bisa berjalan normal menuju tempat parkir.
Walau sudah bisa keluar dari terminal kedatangan bandara tapi masih harus menunggu karena sang relawan penjemput belum datang karena dari rumahnya mampir dulu, ya, ke mall tadi. Dia adalah teman lamaku dari Bengkulu yang sudah lebih dulu menetap di Pontianak.
Tak lama yang bersangkutan muncul. “Oops…!” rupanya udah jadi Pendekar dia, pendek dan kekar, Pendekar Samurai, pendek dan kekar, sakit sedikit airmata berurai. Atau Pendekar Rajawali, pendek dan kekar fans berat grup band Raja dan Wali.
Tak lama aku telah berada dalam mobilnya, berikut koper merk Polo Twins yang tengah menunaikan janji bhaktinya itu, tapi dia dibelakang. Kendaraan penjemput ini adalah Daihatsu Xenia Xi NoPol B 7892 WJ. Ingat, platnya B, nomor Jakarta..! sebuah kesombongan terselubung, pemiliknya tetap ingin identitas ke-Jakarta-annya tetap terjaga.
Para punggawa kerajaan yang datang dari Singkawang sendiri malah menunggu di rumah makan Padang Sari Bundo di jalan A. Yani. Kalau menunggu di rumah makan, pastilah sambil makan-makan, lazimnya begitu. Sementara sang raja yang ditunggu sendiri belum bersentuhan dengan makanan sedikitpun, masih kelaparan. Jadi kalau punggawa sudah makan sementara rajanya belum, itu berarti durhaka…! Untung saja mereka makan makanan ringan, jadi durhakanya masih ringan. Coba kalausudah makan besar, yang berat-berat.
Pertemuan dengan para pungawa ini berlangsung tertib dan penuh takzim, ucapan selamat datang sambil berjabat tangan terasa sangat formal dan kaku. Segeralah disusun tentang prosesi penyambutan dan penobatan sang raja baru, Yuyul Suruyul hadir waktu itu, dan tetap cengengesan.
“Suasananya masih belum kondusif pak, kami masih mengatur rencana untuk pisah sambutnya agar bisa berjalan lancar.”
“Ohya? Rencana kalian gimana?”
“Nah itu yang kami masih bingung pak.”
Halah…!
Malam itu menginap dulu disebuah hotel, bernama Orchardz, dan sebelum berpamitan, sang pendekar penjemputku tadi berpesan agar nanti kalau bertemu dengan raja yang akan segera lengser itu sebaiknya tidak mengucapkan apa-apa.
Hhhhh ada apalagi ini? Ah sudahlah yang penting malam ini bisa tidur dengan tenang dulu.
Ternyata rencana belum bisa dilaksanakan, Pak Kakanwil, sang maharaja, baru datang senin sore, dan beliau memutuskan agar aku berangkat bersama-sama dengannya hari selasa pagi, jangan berangkat sendiri-sendiri. Makin bertanya-tanya lagi, ada apa sih ini?
Untungnya semua itu diatur sambil makan malam bareng di hari Senin malam selasa, di rumah makan Sari Bento. Menjelang makan malam itu digelar dan sambil menunggu kehadiran sang maharaja bapak KaKanwil, datanglah seseorang layaknya Komandan Kodim atau Kapolres. Berbadan tegap, berkulit gelap, sedikit bicara tidak banyak cakap. Sepatu mengkilap, selalu dalam keadaan siap, sigap dan cepat tanggap. Hap….! Lalu ditangkap. Ternyata dia adalah Kabag Umum Kanwil, orang kedua setelah KaKanwil setelah maharaja. Dia adalah mahapatih..! pantesan aja wajahnya mirip-mirip Gadjahmada, tapi yang satu ini sepertinya tidak pernah mengucapkan sumpah palapa. (nanti bersambung lagi, capek, pegel nulisnya…!)








Di sekitar perkampungan yang subur daerah Jawa barat bernama Pangalengan, dekat dengan air terjun tinggi nan jernih yang bernama Siliwangi, di dekatnya ada sebuah rumah besar di kerumuni oleh orang - orang yang kala itu sedang berbahagia, ada kebuah kemeriahan pesta pernikahan yang sedang berlangsung disana, kemeriahannya sungguh mewah sekali, teramat mewah sampai yang menghadiri pesta tersebut merasa terkagum – kagum dan terpesona, entah berapa ratus juga yang di habiskan untuk mengadakan perhelatan akbar tersebut, memang tidak tanggung tanggung, janda kaya itu membuat puteri tunggal kesayangannya itu tersenyum bahagia di hari ia melepaskan status kesendiriannya itu. Walaupun calon suaminya itu hanyalah seorang ustadz muda dari pesantren Ciwaluya yang terhalang satu kaki gunung tinggi nan lebar dari tempatnya yang bernama malabar, namun ia merestui hubungan baik dari dua insan yang sedang di mabuk asmara itu. Ia tak memperhitungkan kekayaan seperti halnya di film - film, baginya yang terpenting hanyalah keduanya saling mencinta dan calon menantunya itu dapat mencintai dan menjaga puterinya kelak. 
